Pergi Jauh, Kaki Kecil.

galeri

“Mira, kapan kamu ke Jerman menengok aku” sebuah pertanyaan iseng dari seorang om yang tinggal ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia dan dengan reflek saya menjawab 2 tahun lagi saya kesana. Suara di seberang benua itu kembali tertawa…. (2011)
Hari ini, tepat hampir 2 tahun dari obrolan di telpon itu , saya berdiri di bandara Duesseldorf yang berkabut dan dingin, memenuhi janji saya….(2013)

Dari kejauhan saya melihat sepasang wajah Asia yang sibuk mencari…mungkin mereka juga sudah lupa wajah saya. Sama seperti saya yang dari tadi berusaha mengumpulkan memori tentang seraut wajah Asia yang sudah lama sekali tak saya temui. Dan entah bagaimana caranya, akhirnya kami saling mengenali….dan tertawa lega. Sama seperti 2 tahun lalu, sebuah kalimat iseng kembali terlontar dari mulut om saya “Ngapain kamu ke Ratingen? Di sini ngga ada apa-apa…mending kamu ke Munich, disana lebih banyak yang bisa dilihat…”. Jujur untuk sepersekian detik saya kaget dengan pertanyaan itu….dan jawaban singkat yang terpikir dan terlontar pada saat itu adalah “Saya hanya menepati janji saya 2 tahun lalu”.

Persis yang dikatakan pada saat menjemput saya di bandara, sepanjang perjalanan sampai di rumah, om saya tetap membahas tentang apa yang akan saya lakukan di Ratingen. Sampai kemudian saya paham, mengapa dia begitu panik kalau saya hanya berdiam diri di Ratingen. Karena om dan tante saya, memang benar-benar tidak punya waktu untuk menemani seorang “tamu”. Waktu seharian yang mereka punya adalah untuk restaurant, dari pagi sampai malam, begitu seterusnya… dan saya bertekad tidak akan menjadi “penyela” dari rutinitas itu. Sedikit meleset dari gambaran yang saya bayangkan, tapi cara terbaik menikmatinya adalah mencecap setiap detik kebersamaan dengan mereka saat ini.

Berada ribuan kilometer dari “rumah” ini pun saya menemukan teman. Teman dari sebuah lini masa lalu. Teman SMA di Malang. Teman yang tak pernah saya kenal pada waktu itu. Teman yang kemudian akan menjadi host saya selama seminggu di Essen dan membuat om saya lega bukan kepalang hahaha… Teman yang tanpa dia sadari sekalipun, semakin menyadarkan saya bahwa tak ada yang kebetulan di semesta ini.

Seperti halnya travelling yang kadang tak terduga, dimana dalam hitungan detik semua rencana bisa berubah. Demikian pun rencana saya untuk tinggal di Ratingen. Yup, berubah. Tepat di hari pertama saya tiba di Ratingen, di hari itu juga saya bermigrasi ke Essen.

Essen….kota yang tak pernah saya bayangkan bakal menjadi tempat terlama selama perjalanan travelling saya ke yurop. Essen yang gloomy.., karena selama saya disini kota cantik ini selalu tampak bersedih dengan mendung putih menggantung setiap harinya. Dan Essen, seperti halnya kota-kota Jerman lainnya, memiliki karakter yang sangat khas : teratur, rapi, dan kaku. Sempat terpikir, apakah cuaca yang dingin ikut mempengaruhi karakter penduduknya, dimana akan berbanding terbalik dengan orang-orang yang tinggal di daerah tropis…..ahhh tentu saja itu hanya dugaan saya yang mungkin tak beralasan.

Tapi di kota kecil ini, yang jaraknya ribuan kilometer dari zona nyaman saya, saya menemukan sebuah bentuk kehangatan lain. Kehangatan sebuah persahabatan dari seorang teman. Seseorang yang baru saya sadari di kemudian hari memang dipersiapkan untuk menemani saya berkeliaran mengunjungi kota-kota di Jerman dan sekitarnya, menggantikan om saya yang sangat sibuk. Yang mengenalkan saya pada banyak kepingan sejarah masa lalu dari bangunan tua dan patung-patung yang selama ini belum pernah saya dengar ataupun lihat. Seseorang yang membuat saya melongo kagum karena pengetahun luasnya tentang wayang, hikayat Jawa dari epos Mahabrata yang diceritakan secara turun-temurun di negeri kami. Dan membuat saya bertekad untuk mempelajarinya sepulang travelling dari Jerman. Memang tak pernah ada yang kebetulan bukan? 🙂 Saya mempercayai itu dari dulu sampai sekarang. Selalu.

Pun termasuk dengan obrolan menarik tentang “identitas diri”. “Pelabelan” yang membuat manusia justru semakin terkotak-kotak, (menurut saya :)). Sebuah doktrin yang ditanamkan secara turun-temurun, tentang aturan bergaul dengan siapa, harus menikah dengan suku mana, dll. Padahal apakah kita pernah bisa memilih terlahir dari orang tua seperti apa, suku mana, warna kulit hitam atau putih, keluarga kaya atau miskin…tidak kan? Topik yang sebetulnya paling malas saya bicarakan, jika tidak bertemu dengan orang yang tepat. Dan herannya saya cukup tertarik membicarakannya dalam perjalanan menuju ke Amsterdam saat itu. Saya sepaham tentang “Diversity”, keanekaragaman yang membuat hidup lebih memiliki warna dan rona. Dan hari itu juga saya semakin mengerti, bahwa tak ada yang salah menjadi “berbeda”.

Sejujurnya saya adalah seorang penikmat sejati. Duduk sendiri di suatu siang, di sudut sebuah taman di Essen, di tengah lalu lalang para pejalan kaki, saya kembali menyadari sepanjang saya hidup, pelajaran paling banyak tentang kehidupan itu sendiri saya peroleh dari travelling. Teringat kutipan indah yang ditulis oleh mba Ambar Briastuti yang saya temukan di buku karya Agustinus Wibowo, saya setuju kalau

Travelling mengajarkan kita tentang manusia dan menjadi manusia . Baik-buruk, miskin-kaya, jahat-tulus, kejam-sabar adalah dua sisi keping logam dari sifat universal manusia”.

Saya belajar mengenal keduanya, melalui perjalanan yang saya lakukan, melalui setiap orang yang saya temui, dan sampai akhirnya kembali bermuara pada diri saya sendiri. Ya….saya belajar mengenal kekuatan dan kelemahan diri saya, dan yang terpenting adalah saya belajar melihat bagaimana perspektif baru bisa mengubah sebuah sudut pandang. Hal-hal yang dulu saya lihat dari sebuah lubang sempit, seiring waktu ternyata berubah jika saya melihatnya dari sisi yang lain.

Travelling mengajarkan saya melintas keluar dari garis batas, keluar dari zona nyaman saya, melihat bentuk kehidupan yang dijalani manusia dari sisi benua lain, menjejak ruas-ruas jalan yang berbeda tiap harinya, menghirup aroma asing di sekitar saya, merasakan kultur budaya yang berbeda..itu semua membuat saya semakin kaya dalam artian yang sesungguhnya.

Dulu saya melihat rumah adalah kota tempat saya lahir dan bertumbuh, di Malang. Seiring waktu saya menemukan rumah lain dalam kehidupan saya. Mendapatkan cinta yang berlimpah dari sahabat-sahabat saya di Jakarta, menyadari saya mendewasa dengan cukup baik bersama keluarga baru saya di kantor. Bagi saya, inilah rumah… Pun demikian dengan saat ini, ketika saya menemukan banyak kehangatan dalam perjalanan travelling saya, saya menemukan rumah disini. Rumah di Essen. Dan lagi-lagi saya bahagia karenanya. Rasa bahagia yang muncul dari pemikiran sederhana dan itu cukup buat saya. Sangat cukup.

Besok saya pulang. Kembali melewati ribuan kilometer. Kembali ke rutinitas, sebagai mbak-mbak kantoran di Jakarta. Tetapi satu hal yang saya yakini setiap kepulangan tidak pernah membawa saya menjadi orang yang sama. Persis yang dikatakan ayah saya, “Pergi, pergilah yang jauh kaki kecil..lihatlah dunia lain di luar sana. Dan kamu akan kaya”.

Saya akan kembali. Mengulang kebiasaan yang sama. Termasuk setiap pulang yang akan membawa saya pada pemahaman berbeda dan baru tentang hidup.
-m-

Essen, 14-19 September 2013

Advertisements

One thought on “Pergi Jauh, Kaki Kecil.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s